Sigit menilai masih terdapat gangguan pasokan listrik di sejumlah daerah, bahkan muncul istilah baru di tengah masyarakat untuk menggambarkan kondisi tersebut.
Alih-alih mengalami pemadaman bergilir, warga justru menyebutnya sebagai "menyala bergilir" karena listrik hanya menyala pada waktu-waktu tertentu.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi HRS Merah Putih 3.0, Nilai PLN NP Perkuat Kemandirian Teknologi Hidrogen Nasional
"Kalau Bapak tadi sampaikan 21 Juni 2026 tidak ada lagi pemadaman, betul, tapi ada menyala bergilir," ungkap Sigit.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut masih banyak dirasakan masyarakat, terutama di wilayah Kalimantan.
Menurutnya, perhatian terhadap persoalan kelistrikan selama ini lebih banyak terfokus pada sistem Jawa-Madura-Bali dan Sumatera, sementara wilayah lain masih menghadapi tantangan yang berbeda, khususnya terkait ketersediaan energi primer untuk pembangkit listrik.
Baca Juga:
PLN dan Pemkab Cianjur Perkuat Sinergi, Dorong Pemerataan Listrik dan Pengembangan EBT
Oleh karena itu, Sigit meminta PLN tidak hanya menjadikan kondisi sistem Jamali sebagai tolok ukur keberhasilan dalam mengatasi persoalan kelistrikan nasional.
Ia menegaskan bahwa sistem kelistrikan Indonesia mencakup berbagai wilayah dengan karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda sehingga memerlukan penanganan yang lebih menyeluruh.
Selain itu, ia juga mendorong PLN untuk lebih terbuka kepada masyarakat apabila terjadi gangguan pasokan listrik.