Di sisi lain, sejumlah lembaga ekonomi memperingatkan risiko membengkaknya defisit APBN akibat tekanan global dan lonjakan harga minyak.
Defisit APBN 2026 sendiri ditargetkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB berdasarkan asumsi nilai tukar dan harga minyak tertentu.
Baca Juga:
Yurizal Meninggal Usai Keluhkan Rawat Inap, Menkes Budi Gunadi Mengaku Sedih dan Merasa Gagal
Namun dalam berbagai simulasi, skenario terburuk menunjukkan defisit berpotensi melampaui batas 3 persen terhadap PDB.
Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah disebut sebagai faktor utama yang dapat memicu lonjakan subsidi energi secara signifikan.
Bahkan, beban subsidi energi diperkirakan bisa meningkat hingga hampir tiga kali lipat dari angka awal.
Baca Juga:
Buntut Cacian ke Pasien yang Meninggal, 10 Nakes Teridentifikasi KKI hingga Dokter Dinonaktifkan
“Defisit APBN diproyeksikan mencapai 3,13% terhadap PDB,” dikutip dari kajian, Selasa (17/3/2026).
Sejumlah lembaga juga merekomendasikan agar pemerintah meninjau ulang program prioritas dengan anggaran besar seperti MBG.
Program tersebut dinilai menyerap porsi signifikan dari total belanja pemerintah pusat sehingga relevan untuk dievaluasi.