Sebagaimana dinyatakan Gus Yahya dalam sejumlah wawancara, ia akan melepaskan NU dalam politik praktis.
”Saya tidak mau ada calon presiden dan wakil presiden dari PBNU,” kata Gus Yahya di Jakarta, Minggu (19/12/2021).
Baca Juga:
PBNU: Tak Masuk Akal TNI Aktif Bisa Dinas di Kejaksaan Agung dan MA
Salah satu pertimbangan yang dikemukakan Gus Yahya adalah residu pemilihan presiden yang sampai saat ini masih menyisakan pembelahan politik di masyarakat.
”Mari istirahat dulu, mari sembuhkan dulu luka-luka dan mengutuhkan kembali polarisasi yang sudah terjadi,” ujar Gus Yahya, seperti dikutip Kompas, 28 Desember 2021.
Rekam jejak Gus Yahya yang tidak silau dengan kekuasaan diyakini akan bisa membuatnya menjalankan peran sebagai ”muazin” bangsa.
Baca Juga:
Alissa Wahid Ungkap Kedekatan Spiritual Antara Gus Dur dan KH Hasyim Asy'ari
”Muazin” yang akan selalu berteriak tentang ketidakadilan, berteriak tentang pentingnya kemanusiaan dan perdamaian, serta mempromosikan soal moderasi beragama, berteriak soal betapa berbahayanya korupsi.
Bangsa ini membutuhkan konsolidasi agenda masyarakat sipil untuk rekonstruksi sistem ekonomi, sistem politik, ataupun sistem sosial berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Mengapa korupsi terus saja merajalela di negeri ini?