TIMUR Tengah membara, Selat Hormuz ditutup! Itulah kondisi terakhir di area Teluk Persia, yang dipicu oleh aksi agresi Amerika-Israel kepada Iran. Sudah diprediksi, kecamuk perang di area Midle East itu akan berbuntut panjang, khususnya untuk sektor energi, dan bahkan bahan pangan dunia.
Mengingat area Teluk Persi, khususnya Selat Hormuz, adalah salah satu akses "tol laut" dunia, termasuk akses ke Indonesia, untuk mengangkut BBM (bahan bakar minyak), dan bahkan komoditas logistik lainnya.
Baca Juga:
Muncul Dugaan Pengoplosan Pertalite, YLKI Minta Dirjen Migas Periksa Kualitas BBM Pertamina
Aksi penutupan Selat Hormuz itu menjadi early warning bagi Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada impor BBM dan minyak mentah dari Timur Tengah, khususnya dari Saudi Arabia.
Dalam hal ini, bukan hanya Indonesia yang terdampak oleh perang yang tidak adil tersebut, tetapi juga negara lain seperti: Jepang, Korea, Taiwan, China, dan India.
Publik makin gelisah atas fenomena dampak perang tersebut. Bahkan menjadi tema "omon omon" emak emak, dan obrolan di warung kopi, bahwa Indonesia akan mengalami kelangkaan BBM.
Baca Juga:
YLKI Soroti Peran Pemerintah dalam Mengatasi Polusi Udara di Jakarta dan Kota-kota Besar Indonesia
Tidaklah salah opini dan asumsi seperti itu, sebab nyatanya Menteri ESDM menandaskan bahwa cadangan BBM dan ketahanan energi kita hanya cukup 21 hari saja.
Sedangkan rencana mengalihkan impor BBM dari Amerika, perlu perjalanan waktu yang cukup lama yakni antara 30-40 hari, sebab musti menembus samudra Pasifik dan Atlantik.
Absah, jika publik gelisah dan khawatir akan terjadinya kelangkaan BBM, apalagi menjelang mudik Lebaran yang lazimnya terjadi lonjakan konsumsi BBM hingga 30 persen.