Pandangan Bautista ini relevan untuk konteks Indonesia.
Sebab, tak terelakkan lagi bahwa kebanyakan politikus kita memang menjadikan kedudukan politik untuk memperkuat posisi individu ataupun untuk meraup keuntungan jangka pendek sebesar-besarnya.
Baca Juga:
Anak Bupati Malang Jadi Kadis, Sah Secara Aturan Tapi Disorot Soal Etika
Mereka hanya mengejar kesuksesan belaka.
Memang, harus diakui, bahwa secara alami, seorang politisi pasti (akan) mencari kesuksesan.
Namun, sering kali motivasi seperti ini bergeser menjadi nir-esensial.
Baca Juga:
Kritik Boleh, Delegitimasi Jangan: Anthony Leong Tegaskan Batas Demokrasi
Keinginan untuk melayani kepentingan rakyat bermetamorfosis menjadi keinginan untuk mendapatkan keuntungan pragmatis.
Hal seperti inilah yang justru menjadi pintu masuk bagi adanya tindakan yang mendistorsi hukum, menghancurkan keadilan, dan mengabaikan kepentingan rakyat.
Di sini, kesuksesan kehilangan dimensi agregatif.