Saat otak menangkap sesuatu yang dianggap penting atau mengancam, tubuh akan melepaskan adrenalin.
Pelepasan adrenalin itu kemudian memicu berbagai respons tubuh, termasuk detak jantung meningkat, tubuh lebih waspada, dan bulu halus pada kulit berdiri.
Baca Juga:
MK Soroti Kuota Internet Hangus, Operator Seluler Harus Buktikan Komitmen Rollover
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa seseorang lebih mudah merinding ketika sedang cemas atau berada dalam tekanan.
Otak manusia tidak selalu membedakan ancaman fisik dengan tekanan psikologis seperti stres pekerjaan, konflik, trauma, atau kecemasan yang sedang dipikirkan.
Pada kondisi tertentu, sistem alarm dalam otak dapat bekerja lebih cepat dibanding kesadaran manusia dalam memahami situasi yang sedang terjadi.
Baca Juga:
Trump Mulai Jengkel ke Netanyahu, Sebut Israel Bisa Gagalkan Damai AS-Iran
Yeni mengatakan orang dengan riwayat kecemasan atau trauma lebih mudah mengalami reaksi merinding.
“Pada orang yang memiliki riwayat kecemasan atau trauma, respons ini dapat muncul lebih mudah karena sistem alarm di otak menjadi lebih sensitif,” ujar Yeni.
Merinding juga tidak selalu muncul karena rasa takut.