WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernyataan keras dilontarkan Ketua Majelis Syura Partai Ummat Amien Rais terkait posisi Indonesia dalam organisasi internasional Board of Peace yang menurutnya berpotensi mencoreng martabat bangsa.
Jumat (13/3/2026) -- Amien Rais menilai Presiden Prabowo Subianto sebaiknya tidak memikirkan peluang maju kembali sebagai calon presiden pada Pemilu 2029 jika tidak mencabut keanggotaan Indonesia dari Board of Peace atau BoP.
Baca Juga:
Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol Kunjungi PetroChina Jabung, Tegaskan Dukungan TNI AD untuk Ketahanan Energi Nasional
Ia menyebut keikutsertaan Indonesia dalam organisasi tersebut justru menimbulkan aib bagi negara.
“Kalau Pak Prabowo tidak berani menghapus aib di dahi Indonesia, ya silakan. Jika boleh memberi saran, jangan bermimpi maju capres di 2029,” ujarnya.
Menurut Amien Rais, Board of Peace merupakan organisasi yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan diikuti oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Baca Juga:
Klinik Hukum Posbakum PN Karawang dan PKBH Unsika Berikan Bantuan Hukum bagi Warga Binaan Lapas Kelas IIA Karawang
Ia menilai kedua tokoh tersebut memiliki agenda politik yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.
“Indonesia dengan bergabung ke dalam BoP itu, ikut serta dalam rombongan negara yang menjual diri ke Amerika dan Israel,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Amien Rais melalui kanal YouTube pribadinya ketika menyoroti kebijakan luar negeri Indonesia yang dinilai perlu dikaji kembali.
Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan kondisi sosial politik dalam negeri yang menurutnya mulai memunculkan keresahan di masyarakat.
“Keresahan sosial politik sudah meluas, akibat harga kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan,” ucapnya.
Amien Rais menambahkan bahwa masa depan bangsa dan negara pada akhirnya berada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa, sehingga para pemimpin negara diminta tidak menganggap enteng berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia mengingatkan pemerintah agar lebih peka terhadap dinamika sosial yang berkembang, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda yang mulai menyuarakan kegelisahan terhadap situasi politik dan ekonomi.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]