Hotman menilai pernyataan Komnas Perempuan melukai rasa kemanusiaan dan keadilan bagi korban perempuan.
“Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa yang dialami oleh Jovita bukan penyiksaan? kepalanya penuh luka, penuh belatung, infeksi. Itu bukan penyiksaan? bibirnya disayat. Itu bukan penyiksaan? eh, Komnas Perempuan, entah siapa namamu, kalau bibirmu disayat, itu penyiksaan atau apa? disayat-sayat,” beber Hotman.
Baca Juga:
Lima Peserta Meninggal, DPR Desak Kemenhan Hentikan Sementara Latsarmil Kopdes
Dalam video itu, Hotman juga mempertanyakan keras dasar penilaian Komnas Perempuan terhadap luka dan penderitaan yang dialami korban.
“Kalau habis disayat, kepala kamu digembukin pakai helm, luka, dikunci. Apa itu bukan penyiksaan? padahal kan tugasmu untuk melindungi perempuan,” semprot Hotman Paris dengan nada tinggi.
Dari Singapura, Hotman mengaku terus memantau perkembangan kasus tersebut melalui media sosial.
Baca Juga:
PLN Watch Dorong Sistem Digital Pengawasan Batubara, Kadar Kalori PLTU Tak Boleh Dimainkan
Ia kemudian menyindir operasional Komnas Perempuan yang dibiayai dari uang pajak masyarakat Indonesia.
“Kamu dibayar dari pajak yang kita bayar. Perutmu itu diisi oleh makanan yang dibeli dari gaji, yang dibeli dari pajak yang kita bayar,” lanjut Hotman.
Hotman menyebut uang pajak yang dibayarkannya turut digunakan negara untuk membiayai lembaga tersebut.