Sejumlah nama yang masyhur diusulkan banyak kiai NU sebagai calon AHWA antara lain KH Nurul Huda (Ploso Jatim), KH Anwar Mansur (Lirboyo Jatim), KH Ma’ruf Amin (Banten), KH Musthofa Bishri (Rembang Jateng), KH Said Aqil Siradj (Cirebon Jabar), TG Turmudzi (NTB), Tgk H Nuruzzahri (Aceh), KH Ali Kholili (Kaltim), KH Ubaidillah Shadaqoh (Semarang Jateng), KH Muhtadi Dimyati (Banten), KH Afifuddin Muhajir (Situbondo Jatim), KH Ali Akbar Marbun (Medan Sumut), serta HM Yusuf Kalla (Sulawesi).
Para ulama calon AHWA tersebut diharapkan warga NU mampu mengembalikan marwah jam’iyyah, menegaskan arah dan haluan organisasi di tengah disrupsi, serta memilih pemimpin PBNU yang membangkitkan kebanggaan nahdliyyin.
Baca Juga:
Gus Yahya Dipulihkan, PBNU Benahi Tata Kelola Organisasi
"Ramadan harus digunakan PBNU untuk menyerap gagasan dan menyiapkan rumusan mekanisme pergantian Rais Aam dan Ketua Umum dalam Muktamar nanti," ucapnya.
Ia juga menepis isu penundaan Konbes PBNU, Munas Alim Ulama, serta Muktamar ke-35 NU hingga akhir 2026 atau awal 2027 dan menilai kabar tersebut tidak benar karena penundaan sama dengan mencederai kesepakatan ishlah.
"Paska rapat harian yang dihadiri lengkap syuriyah dan tanfidziyah PBNU, Senin, 16 Februari 2026 di lantai 8 Gedung PBNU sempat beredar kabar bahwa Muktamar ke 35 NU diundur. Mudah-mudahan kabar ini tidak benar dan tidak terlintas niatan undur waktu oleh pimpinan PBNU. Karena bila hal itu benar, maka mencederai kesepakatan ishlah," ujarnya.
Baca Juga:
Dugaan Pencemaran Nama Baik, Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
Menurutnya, substansi ishlah menyentuh nilai as-shidqu atau kejujuran serta al-amanah wal wafa bil ahdi atau tepat janji dalam mabadi’ khoiro ummah.
Hingga kini, ia menyebut warga nahdliyyin merasa lega dengan adanya ishlah PBNU disertai kesepakatan pelaksanaan Konbes dan Munas Alim Ulama pada Syawal 1447 H serta Muktamar ke-35 NU pada Juli-Agustus 2026.
"Dengan begitu, ruhul khidmah atau jiwa pengabdian PBNU terlihat baik, dan jangan sampai berubah menjadi ruhul khid’ah atau spirit mencurangi," ucap Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Asy-Syadzili Sumberpasir Pakis, Malang, Jawa Timur itu.