“Elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah, seperti mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang berada di urutan keempat dengan elektabilitas 8,5 persen, lalu Gubernur Jakarta sekarang Pramono Anung di urutan kelima dengan 7,8 persen dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan 7,9 persen,” ujar Abdan.
Ia menjelaskan bahwa kemunculan wajah-wajah baru tersebut tidak terlepas dari faktor kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, serta visi dan program kerja.
Baca Juga:
Isu Retak Dibantah, Jokowi Pastikan Prabowo-Gibran Tetap Bersama
Abdan mencontohkan elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin diperkuat oleh indikator kepemimpinan dan ketokohan sebesar 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.
“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafri Syamsuddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuka ruang dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis politik, perubahan peta koalisi, atau absennya figur pemain utama.
Baca Juga:
Partai Gema Bangsa Resmi Dideklarasikan, Tegaskan Dukungan untuk Prabowo di Pilpres 2029
Sementara itu, Abdan menyebut rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan bahwa popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual.
Di puncak elektabilitas, Prabowo Subianto masih mendominasi dengan raihan 22,3 persen dan terpaut cukup jauh dari tokoh lainnya.
Gibran Rakabuming Raka menempati posisi kedua dengan elektabilitas 12,2 persen, disusul Ganjar Pranowo di urutan ketiga dengan 9 persen.