Bahkan, saat ini, banyak beredar berbagai jenis produk yang mengandung
mikroorganisme atau sering disebut bio-organic fertilizer.
Hanya saja, apa betul
mesti mengandalkan pupuk biorganik?
Baca Juga:
Indonesia Ajukan Penangguhan Konsesi kepada Uni Eropa di WTO terkait Sengketa Sawit
Memang,
penggunaan pupuk biorganik bisa mendorong lahan perkebunan lebih subur.
Namun, pada
kenyataannya, alam di perkebunan kelapa sawit
biasanya telah menyediakan mikroorganisme yang terkandung dalam biorganik
tersebut, hanya saja terkadang pelaku perkebunan tidak menyadarinya.
Sebab itu, yang perlu dilakukan adalah penanganan kebun secara baik.
Baca Juga:
AS Lepas Tarif Sawit, Indonesia Panen Peluang dan Tekan Dominasi Eropa
Misalnya, dengan
menjaga kelembaban tanah di areal perkebunan kelapa sawit, sebab dengan
terjaganya kelembaban tanah maka berpotensi untuk menumbuhkan mikroorganisme di
dalam tanah.
Jika kondisi demikian terjadi, maka bakal mendorong perkembangan sistem perakaran pohon.
Jika penerapan ground cover management itu dilakukan dengan baik, maka efektif feeding root
menjadi maksimal, hasilnya efektivitas penyerapan pupuk menjadi tinggi dan losess pupuk semakin minim, ini terjadi
lantaran kondisi tanah yang lembab.