"MBG berkontribusi terhadap naiknya serapan, tapi tidak sebesar di saat momen Idulfitri, besaran tidak lebih dari 5%," ujar dia.
Meski kontribusinya belum besar, Sugeng menilai program MBG setidaknya membantu menjaga fluktuasi harga ayam hidup di tingkat peternak agar tidak jatuh terlalu dalam seperti tahun sebelumnya.
Baca Juga:
Keamanan Pangan Jadi Fokus, Bappissus Ingin Program MBG Berjalan Aman dan Berkelanjutan
"Peternak merasakan hal itu yang nampak juga fluktuasi harga tidak ekstrim, jika di Mei 2025 ke belakang atau 2024, turunya harga bisa ekstrem, maka di triwulan akhir 2025 sampai saat ini tidak ekstrim, kisaran Rp17.000 per kg harga ayam hidup. Dan ini peternak rugi. Di tahun 2024 bisa mencapai Rp13.000 per kg," jelasnya.
Sugeng juga menyebut peningkatan permintaan akibat MBG sejauh ini masih mampu dipenuhi industri peternakan nasional. Bahkan, menurut dia, stok ayam sempat mencapai ratusan ribu kilogram pada akhir tahun lalu.
"Kenaikan permintaan efek dari MBG mampu disupply oleh para pelaku di industri ini. Bahkan di akhir tahun 2025 ada stok kisaran 560.000 kg," kata Sugeng.
Baca Juga:
KPK Temukan 8 Poin Tata Kelola MBG: Potensi Rente Hingga Indikator Keberhasilan Belum Ada
Di sisi lain, peternak masih menghadapi tekanan biaya produksi. Ia mengungkapkan harga pakan dan DOC (day old chick) justru mengalami kenaikan ketika harga ayam hidup di kandang turun.
"Per hari ini memang ironi, harga pakan dan DOC mengalami kenaikan di saat harga ayam di kandang turun. Artinya terjadi kenaikan biaya pokok produksi," ujarnya.
Lebih lanjut, Sugeng menilai manfaat program MBG belum sepenuhnya dirasakan langsung oleh peternak kecil. Ia menilai, penyerapan kebutuhan ayam dan telur untuk program tersebut saat ini masih banyak melibatkan pedagang perantara.