WAHANANEWS.CO, Jakarta - Krisis energi global kian nyata setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengganggu jalur distribusi minyak dunia, termasuk di titik vital seperti Selat Hormuz.
Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa produksi minyak dunia sangat terkonsentrasi hanya pada segelintir negara utama.
Baca Juga:
Ferri Nuzarli Tinggalkan Partai Buruh, 1,3 Juta Anggota ORI Ikut Mundur
Pada 2025, lima negara tercatat memproduksi hampir setengah dari total minyak global, dengan Amerika Serikat, Rusia, dan Arab Saudi saja menyumbang sekitar 40 persen pasokan dunia.
Kondisi tersebut membuat pasar energi global sangat rentan terhadap gejolak geopolitik di negara-negara produsen utama.
Dampak krisis ini mulai dirasakan hingga ke Indonesia, di mana pemerintah mengkaji kebijakan efisiensi energi di sektor aparatur sipil negara.
Baca Juga:
Satu per Satu Terungkap, Ini Kronologi 5 Peserta SPPI Meninggal Selama Latsarmil
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menggodok kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak.
Ia menjelaskan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna terkait efisiensi energi.
“Kebijakan WFH ini merupakan bagian dari upaya efisiensi energi yang ditekankan dalam berbagai aspek kerja pemerintahan,” ujarnya.