Selisih harga tersebut dinilai dapat memberikan tekanan besar terhadap postur fiskal pemerintah apabila situasi geopolitik tidak segera mereda.
Ia bahkan memprediksi efek rambatan dari lonjakan harga minyak mulai terasa terhadap perekonomian Indonesia pada Juli mendatang.
Baca Juga:
Viral Maling Emas di Medan, Santai Cek Barcode Sebelum Bawa Kabur 150 Gram
“Efek rambatan dari kenaikan harga minyak ini menurut saya akan mulai terasa pada Juli mendatang, jadi kita harus berhati-hati dan mencermati isu ini secara serius,” tutur Luhut.
Meski mengingatkan adanya ancaman serius, Luhut menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak negara lain di kawasan ASEAN maupun global.
Ia menyebut tingkat inflasi domestik masih berada di kisaran 2,4 persen dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026.
Baca Juga:
Pelantikan PNS di Kejari Deli Serdang Geger, Muncul Papan Bunga Bertuliskan “Pelakor”
Selain sektor energi, perang di Timur Tengah juga disebut berdampak terhadap rantai pasok komoditas strategis seperti sulfur dan nafta yang menjadi bahan penting dalam hilirisasi industri nikel HPAL di Indonesia.
“Jika HPAL tidak berjalan, ekspor kita akan turun, ini akan berdampak terhadap ekonomi kita, jadi kompleksitas persoalan ekonomi dan politik itu nyata adanya, kita harus mencermati dengan hati-hati,” katanya.
Luhut menegaskan kondisi global saat ini memperlihatkan hubungan erat antara konflik geopolitik dengan ketahanan ekonomi nasional sehingga pemerintah harus terus meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak lanjutan yang mungkin terjadi.