WAHANANEWS.CO, Jakarta - Harga asli BBM Pertalite kembali menjadi sorotan publik setelah viral struk pembelian di SPBU Pertamina yang menunjukkan angka Rp16.088 per liter sebelum subsidi. Temuan itu membuat banyak warganet mempertanyakan skema subsidi BBM yang selama ini berlaku.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun mengatakan harga yang tercantum dalam struk tersebut merupakan nilai keekonomian Pertalite sebelum subsidi pemerintah diberikan kepada masyarakat.
Baca Juga:
Pelangsir Gaji Rp 80.000 Sehari Ditangkap Polresta Jambi, Sedangkan Gudang BBM Ilegal Bebas Beroperasi di Pinggiran Kota Jambi
Ia menuturkan subsidi energi diberikan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang aktivitas ekonomi nasional. Karena itu, harga jual Pertalite di masyarakat tetap berada di level Rp10.000 per liter.
"Subsidi bertujuan menjaga kestabilan nasional, baik dari sisi daya beli masyarakat maupun menjaga roda perekonomian tetap berjalan," kata Roberth dalam pernyataannya melansir CNBC Indonesia, Sabtu (9/5/2026).
Di tengah polemik tersebut, muncul pula pertanyaan mengapa subsidi tidak diberikan kepada Pertamax yang memiliki nilai oktan lebih tinggi. Menurut Roberth, Pertamax merupakan BBM umum non-subsidi sehingga harga jualnya mengikuti mekanisme pasar.
Baca Juga:
BBM RON 98 Naik, BPKN Ingatkan Pemerintah Waspadai Efek Domino dan Jaga Daya Beli
"Pertamax adalah jenis BBM non-subsidi karena harganya mengikuti harga pasar," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa harga BBM non-subsidi saat ini masih mendapat pengaruh dari kebijakan pemerintah, terutama dalam menjaga stabilitas harga di tengah gejolak energi dunia.
Sebelumnya, salah satu unggahan yang ramai dibahas muncul di platform Threads dan memperlihatkan rincian harga dasar Pertalite sebelum mendapatkan subsidi pemerintah.