Gangguan tersebut disebut sebagai salah satu disrupsi pasokan energi terbesar sejak krisis minyak tahun 1970-an, dengan dampak luas terhadap inflasi global, biaya energi, dan stabilitas ekonomi berbagai negara importir minyak. Dengan dibukanya kembali jalur ini, pasar langsung merespons dengan menurunkan premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak.
Efek gencatan senjata dan pernyataan politik Pembukaan Selat Hormuz tidak terlepas dari dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga:
3 Bulan Berperang, Netanyahu di Ujung Tanduk Israel Takut AS dan Iran Berdamai
Keputusan tersebut terjadi dalam konteks gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang berdampak pada meredanya ketegangan regional. Dalam pernyataannya, Araghchi menegaskan bahwa pembukaan jalur pelayaran dilakukan “sesuai dengan gencatan senjata di Lebanon,” serta berlaku selama periode gencatan senjata.
Trump juga menyampaikan bahwa Selat Hormuz kini “terbuka dan siap untuk dilewati sepenuhnya,” menandakan bahwa jalur tersebut kembali dapat digunakan oleh kapal-kapal komersial.
Namun demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya mencerminkan stabilitas jangka panjang. AS masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara aspek keamanan di wilayah tersebut masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Baca Juga:
Luhut Warning APBN Terancam Jebol, Harga Minyak Bisa Tambah Defisit Rp 200 Triliun
Selain itu, mengutip New York Post, pembukaan jalur pelayaran disebut dilakukan melalui rute yang telah dikoordinasikan dengan otoritas maritim Iran, menunjukkan bahwa kontrol terhadap arus kapal masih berada dalam pengawasan ketat.
Respons pasar keuangan global Penurunan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga memicu reaksi luas di pasar keuangan global. Indeks saham utama di Amerika Serikat dan Eropa mencatat penguatan signifikan.
Dow Jones Industrial Average dilaporkan naik lebih dari 900 poin, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq juga mencatat kenaikan.