Kenaikan ini mencerminkan meredanya kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Ketika harga minyak turun, ekspektasi terhadap biaya produksi dan transportasi ikut menurun, sehingga memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Di sisi lain, saham perusahaan energi justru mengalami tekanan seiring penurunan harga minyak. Kondisi ini menunjukkan adanya rotasi sektor di pasar, dari sektor energi ke sektor yang lebih sensitif terhadap biaya bahan bakar, seperti maskapai penerbangan.
Baca Juga:
3 Bulan Berperang, Netanyahu di Ujung Tanduk Israel Takut AS dan Iran Berdamai
Sejumlah maskapai bahkan mencatat kenaikan harga saham yang signifikan, mencerminkan ekspektasi bahwa biaya bahan bakar jet akan menurun.
Dampak terhadap harga energi dan inflasi
Penurunan harga minyak global berpotensi memberikan dampak terhadap harga energi di berbagai negara, termasuk harga bahan bakar. Di AS, harga bensin dilaporkan turun sekitar 7 sen menjadi 4,09 dollar AS per galon, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga:
Luhut Warning APBN Terancam Jebol, Harga Minyak Bisa Tambah Defisit Rp 200 Triliun
Penurunan ini menunjukkan, transmisi harga minyak ke harga konsumen dapat terjadi relatif cepat, meskipun dipengaruhi oleh faktor lain seperti persediaan dan permintaan domestik. Dalam konteks yang lebih luas, turunnya harga minyak juga berpotensi meredakan tekanan inflasi global.
Sebelumnya, lonjakan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi di berbagai negara.
Namun demikian, sejumlah analis menilai bahwa dampak ini masih bersifat sementara, mengingat kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil. Risiko yang masih membayangi Lihat Foto Ilustrasi harga minyak mentah.