WAHANANEWS.CO - Amerika Serikat dan Iran dikabarkan bakal kembali duduk di meja perundingan pekan depan di Islamabad, Pakistan, di tengah memanasnya konflik yang sempat mengguncang kawasan Timur Tengah.
Laporan tersebut diungkap Wall Street Journal dan dikutip Anadolu dengan menyebut perundingan baru antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan digelar secepatnya pada pekan depan.
Baca Juga:
Retakan Raksasa di Afrika Masuki Fase Kritis, Samudra Baru Bisa Terbentuk
Kedua negara saat ini disebut tengah bekerja sama dengan mediator untuk menyusun proposal perundingan berisi 14 poin sebagai dasar penyelesaian konflik.
Proposal tersebut ditargetkan mampu menjadi jalan damai dalam kurun waktu satu bulan.
Draf perundingan itu mencakup sejumlah isu penting mulai dari program nuklir Iran, upaya meredakan ketegangan di Selat Hormuz, hingga kemungkinan pemindahan cadangan uranium Iran ke negara lain.
Baca Juga:
Tes Urine Positif Ganja dan Sabu, 31 Wisatawan Pantai Wedi Awu Direhabilitasi
Namun, pembahasan mengenai pencabutan sanksi terhadap Iran masih menjadi salah satu poin paling alot dalam negosiasi tersebut.
Perbedaan pandangan terkait sanksi dinilai berpotensi menghambat jalannya kesepakatan damai.
Jika perundingan berlangsung lancar, masa penyelesaian konflik selama satu bulan disebut dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua pihak.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan itu memicu aksi saling serang di antara ketiga negara dan meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas kawasan.
Situasi memanas juga berdampak pada lalu lintas kapal minyak dan gas global di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Sebelumnya, AS dan Iran sempat menjalani putaran pertama perundingan pada April 2026.
Namun, negosiasi kala itu gagal menghasilkan kesepakatan konkret.
Gencatan senjata kemudian dilakukan melalui mediasi Pakistan dan diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]