Sistem ini juga disebut mampu melacak dan menyerang hingga empat target secara bersamaan, menjadikannya efektif sebagai pertahanan titik terhadap pesawat rendah, drone, maupun rudal jelajah.
Menjatuhkan jet tempur modern seperti F-15E Strike Eagle dan A-10 Warthog bukan perkara mudah karena kedua pesawat dirancang untuk menghindari deteksi, termasuk dari sistem inframerah.
Baca Juga:
Dibujuk Arab Saudi hingga Qatar, Trump Urungkan Serangan ke Iran
Sensor inframerah harus mampu mengunci panas mesin yang relatif kecil dibandingkan latar belakang langit, sementara faktor cuaca, jarak, dan sudut pandang menjadi tantangan tambahan.
Karena itu, keberhasilan Iran dinilai sangat bergantung pada kondisi tertentu yang jarang terjadi dalam situasi tempur normal.
Analisis menunjukkan Iran kemungkinan memanfaatkan momen ketika pesawat berada pada jarak dekat dan ketinggian rendah sehingga peluang penguncian target meningkat secara signifikan.
Baca Juga:
Trump Lempar Ancaman Baru ke Iran: Waktu Sangat Penting Deal Atau Rata!
Dalam kondisi seperti itu, pesawat bisa lebih rentan terutama ketika pilot sedang fokus pada misi lain atau telah menggunakan flare sebagai sistem pertahanan.
Dengan demikian, Iran dinilai tidak secara langsung mengungguli teknologi Amerika Serikat, melainkan memanfaatkan celah kecil dalam dinamika pertempuran yang sangat kompleks.
Pada Jumat (3/4/2026), sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat dilaporkan ditembak jatuh di wilayah Iran Tengah dengan dua awak berada di dalamnya.