Namun, beredarnya unggahan media sosial berdarah-darah serta pernyataan keras rezim pada Jumat (10/1/2025) mengindikasikan perintah penindakan telah dikeluarkan secara tegas.
“Saya pikir dalam kondisi saat ini, rezim tidak akan ragu menggunakan kekerasan karena protes telah menjalar ke kelas menengah dan hal itu dianggap sebagai ancaman eksistensial,” kata analis Iran Hossein Hafezian yang berbasis di New Jersey.
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
“Mulai sekarang korban diperkirakan akan meningkat pesat, meski situasi bisa berubah jika Trump menyerang beberapa barak polisi anti huru hara,” ujarnya.
Ancaman Trump serta penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat disebut sebagai salah satu faktor di balik respons tidak konsisten otoritas Iran pada hari-hari awal protes.
Di Malekshahi, Provinsi Ilam, sedikitnya lima demonstran tewas ditembak di luar gedung yang dioperasikan pasukan paramiliter Basij, menurut Jaringan Hak Asasi Manusia Kurdistan yang berbasis di Paris.
Baca Juga:
Ketegangan di Timur Tengah Trump Beri Peringatan Keras, Iran Siaga Tempur Level Tertinggi
Sementara itu, di Pasar Besar Teheran yang menjadi basis tradisional pendukung rezim, aparat lebih banyak membubarkan massa menggunakan gas air mata dan penangkapan dibanding tembakan langsung.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.