Penutupan jalur ini kembali menegaskan posisi Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan energi global sekaligus titik rawan konflik geopolitik.
Seorang pemilik kapal kontainer asal Hong Kong mengungkapkan bahwa keputusan mundur diambil setelah adanya peringatan langsung dari pihak Iran melalui komunikasi radio.
Baca Juga:
Di Balik Temuan 995 Senjata, Ada Hak Siswa atas Sekolah yang Aman
"Mereka sekarang berbalik arah karena IRGC mengirimkan pesan radio bahwa selat tersebut ditutup," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sejak konflik memanas pada 28 Februari, tidak ada kapal non-Iran yang melintasi jalur utama di perairan tersebut.
Sebelum konflik pecah, sekitar 130 kapal tercatat melintasi Selat Hormuz setiap harinya sebagai bagian dari rantai pasok energi dunia.
Baca Juga:
Jual Anjing Kesayangan Demi untuk Makan
Penutupan terbaru ini dilakukan hanya beberapa jam setelah Iran sempat membuka kembali jalur tersebut dalam rangka negosiasi dengan Amerika Serikat.
Namun, keputusan itu segera dibatalkan setelah Teheran menilai Washington tetap melanjutkan blokade terhadap aktivitas pelabuhan Iran.
“Jalur air strategis ini sekarang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat oleh angkatan bersenjata,” demikian pernyataan pihak IRGC melalui siaran televisi nasional Iran.