WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan global kian memuncak saat Inggris menyatakan kesiapan memimpin operasi militer gabungan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia.
Angkatan Laut Inggris menegaskan siap mengerahkan kapal perang bersama sekutu guna mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut, Selasa (24/3/2026).
Baca Juga:
Kepastian Hukum Jadi Kunci, Kasus Andrie Yunus Dinilai Harus Lewat Jalur Militer
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kapal dagang, terutama pengangkut minyak, dapat kembali melintas tanpa ancaman di tengah konflik yang masih berlangsung.
Disampaikan dalam pernyataan resmi Angkatan Laut Inggris, mereka mengandalkan teknologi dan kekuatan tempur modern dalam misi tersebut.
“Kami memiliki kemampuan terdepan di dunia dalam hal perburuan ranjau otonom dan kemampuan kapal perusak yang fantastis dengan Tipe 45 kami. Kami juga memiliki pengembangan konsep angkatan laut hibrida yang memberi kami peluang untuk menghindari membahayakan orang demi membantu mengamankan selat.”
Baca Juga:
KY Buka Seleksi Hakim Agung 2026, WNI Terbaik Dipanggil Mendaftar
Lebih dari 30 negara dilaporkan telah menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam operasi gabungan ini, termasuk Uni Emirat Arab, Prancis, Jerman, Kanada, dan Australia.
Koalisi tersebut terbentuk melalui pernyataan bersama yang bertujuan membuka kembali jalur perdagangan energi global yang terganggu.
Inggris disebut menjadi pionir dalam pembentukan aliansi internasional tersebut.
Ditegaskan Kementerian Pertahanan Inggris, upaya ini diarahkan untuk menciptakan jalur aman bagi pelayaran internasional.
“Untuk membangun koalisi ini dan mengembangkan momentum sehingga segera setelah kondisinya tepat, kita dapat membuka jalur aman melalui Selat Hormuz dan memberikan jaminan kepada kapal dagang.”
Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai krusial untuk menormalkan distribusi minyak dunia dan menekan lonjakan harga energi global.
Jika jalur tersebut kembali aman, pasokan minyak dari Timur Tengah diperkirakan akan kembali stabil ke pasar internasional.
Di sisi lain, Iran disebut telah mengizinkan kapal minyak melintas, namun tetap memberlakukan pembatasan ketat terhadap negara tertentu.
Iran masih menutup akses bagi kapal yang berasal dari Amerika Serikat dan Israel karena dianggap sebagai pihak yang memicu konflik.
Selain itu, kapal yang ingin melintas diwajibkan mendapatkan izin dari militer Iran sebagai bagian dari pengamanan wilayah.
Meski demikian, banyak kapal dagang masih enggan melintas karena situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil.
Seorang pejabat Amerika Serikat bahkan menyebut Iran masih memasang ranjau di sekitar Selat Hormuz.
Ranjau tersebut dinilai menjadi ancaman serius bagi keselamatan pelayaran internasional.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan komitmennya untuk membuka kembali jalur tersebut.
“Itu (Selat Hormuz) akan segera kami buka.”
Pernyataan ini semakin menegaskan potensi eskalasi konflik di kawasan strategis tersebut.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]