WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ancaman perang energi di Timur Tengah kian memanas setelah Iran memperingatkan akan menyerang seluruh infrastruktur vital terkait Amerika Serikat dan Israel jika fasilitas listriknya diserang.
Pernyataan keras itu disampaikan militer Iran yang juga memasukkan fasilitas desalinasi air sebagai target potensial, sebuah langkah yang dapat memicu krisis kemanusiaan di kawasan Teluk.
Baca Juga:
Dialihkan ke Tahanan Rumah, Yaqut Dinilai Dapat Perlakuan Khusus
“Jika pembangkit listrik kami diserang, maka semua infrastruktur energi yang terkait dengan AS dan Israel akan menjadi sasaran,” demikian peringatan yang disampaikan pihak Iran.
Juru bicara komando pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa target serangan tidak hanya terbatas pada energi, tetapi juga mencakup fasilitas teknologi informasi dan pabrik desalinasi.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Baca Juga:
Baim Wong Bongkar Masa Kelam, Pernah Tak Mampu Bayar KPR
“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz, tanpa ancaman apapun, dalam waktu 48 jam dari sekarang, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan semua fasilitas energinya, dimulai dari yang terbesar,” tulis Trump pada Ahad (23/3/2026).
Ultimatum tersebut secara langsung mengaitkan kebebasan pelayaran global dengan keberlangsungan infrastruktur energi Iran, sehingga memperbesar risiko eskalasi konflik.
Sebelumnya, Iran telah menunjukkan konsistensinya dalam menindaklanjuti ancaman militer, termasuk menyerang pangkalan AS di kawasan setelah serangan pembuka pada Jumat (28/2/2026) yang menewaskan sejumlah prajurit Amerika.