Di sisi lain, fasilitas desalinasi yang kini terancam memiliki peran krusial dalam menopang kehidupan di kawasan Teluk yang minim sumber air tawar.
Proses desalinasi sendiri merupakan teknologi yang mengubah air laut menjadi air layak konsumsi untuk kebutuhan domestik, industri, dan irigasi.
Baca Juga:
SBMI Peringati May Day di Jambi, Isu Upah Rendah dan Outsourcing Jadi Sorotan
Kawasan Teluk sangat bergantung pada teknologi ini karena kondisi geografis yang kering serta keterbatasan sumber air alami.
Laporan menyebutkan bahwa air tanah dan hasil desalinasi menyumbang sekitar 90 persen kebutuhan air di kawasan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketergantungan terhadap desalinasi semakin meningkat seiring menurunnya kualitas air tanah akibat perubahan iklim.
Baca Juga:
Heboh Dugaan Korupsi MBG, Proyek Sertifikasi Halal Rp141 Miliar Disorot KPK
Lebih dari 400 fasilitas desalinasi tersebar di sepanjang pesisir Teluk, menjadikannya salah satu wilayah dengan kapasitas desalinasi terbesar di dunia.
Negara-negara anggota GCC bahkan menyumbang sekitar 60 persen kapasitas desalinasi global dan menghasilkan hampir 40 persen air hasil desalinasi dunia.
Sebagian besar kebutuhan air minum di negara-negara seperti Kuwait, Oman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada fasilitas ini.