Iran juga sempat menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan militer, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati 150 dolar AS per barel.
Ketegangan semakin meningkat setelah serangan Israel ke ladang gas Pars Selatan pada Rabu (19/3/2026) dibalas Iran dengan menyerang fasilitas minyak dan gas di Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait.
Baca Juga:
Ramai Soal Dana BoP Rp17 Triliun, Prabowo Pastikan Indonesia Tak Ikut Bayar
Kerusakan paling besar terjadi di fasilitas gas alam cair Ras Laffan di Qatar, yang menyebabkan terganggunya produksi energi global.
Akibat kerusakan tersebut, QatarEnergy menetapkan status force majeure pada kontrak jangka panjang hingga lima tahun ke depan, memicu ketidakpastian pasokan energi ke berbagai negara.
Negara-negara seperti Italia, Belgia, Korea Selatan, dan China menjadi pihak yang terdampak langsung akibat gangguan tersebut.
Baca Juga:
Risiko Defisit Menghantui, Prabowo Tetap Pertahankan Program Makan Gratis
Perusahaan energi global seperti ExxonMobil dan Shell juga menghadapi ketidakpastian operasional akibat konflik yang belum mereda.
Ketegangan kembali memuncak setelah Iran meluncurkan serangan balasan terhadap fasilitas nuklir Israel di Natanz pada Sabtu (23/3/2026).
Serangan tersebut dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan Israel dan menghantam wilayah Dimona serta Arad, menyebabkan lebih dari seratus warga mengalami luka-luka.