Menurutnya, serangan yang dilakukan pihak yang disebut sebagai agresor tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga fasilitas sipil seperti sekolah, pusat pendidikan, rumah sakit, situs budaya, hingga kawasan permukiman.
Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan hak asasi manusia.
Baca Juga:
Alutsista Miliaran Dolar Berguguran, Iran Bikin AS Rugi Triliunan
“Iran akan mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan keamanan nasionalnya dari agresi militer,” tegas Araghchi.
Dalam pernyataannya, ia kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat merupakan penyebab utama ketidakstabilan di kawasan Asia Barat dan jalur vital Selat Hormuz.
Konflik ini dipicu oleh operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel setelah terbunuhnya Ali Khamenei pada Jumat (28/2/2026) bersama sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Baca Juga:
Eks Bos Intelijen Inggris Sebut Iran Unggul Lawan AS-Israel
Serangan tersebut mencakup gempuran udara ke berbagai lokasi strategis di Iran, baik militer maupun sipil, yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur secara luas.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah target milik Amerika Serikat dan Israel di wilayah yang diduduki serta pangkalan militer di kawasan.
Serangan balasan itu dilakukan menggunakan gelombang rudal dan drone yang menandai eskalasi konflik semakin meningkat dan berpotensi meluas ke kawasan yang lebih luas.