Memori bencana menjadi sumber pelajaran dalam membangun dan mengelola kota sekaligus merekatkan semua komponen masyarakat.
Menggandeng komunitas lokal berarti menggamit semua lapisan masyarakat.
Baca Juga:
Ledakan di Masjid Afghanistan Telan 3 Korban Jiwa
Hal ini berkaca dari fakta yang disuguhkan dari hasil riset-riset resmi, bahwa sebuah kota tidak pernah berdiri disokong satu kelompok masyarakat saja.
Kabul, misalnya, seperti ditulis Britannica, meskipun didominasi warga beragama Islam, sejak lama sudah ada kelompok pemeluk Sikh dan agama lain.
Di sana juga menjadi tempat tinggal berbagai suku, di antaranya Pasthun, Hazara, Tajik, Uzbek, dan Turk.
Baca Juga:
Ledakan di Masjid Kabul Telan Korban Jiwa
Setiap suku atau kelompok masyarakat memiliki tradisi berbeda yang mesti dihormati dan mendapat tempat untuk berekspresi di dalam ruang urban milik bersama.
Membangun kembali kota perlu menyiapkan tempat untuk saling bertemu dan rekonsiliasi antarwarga dari berbagai latar belakang.
Identitas kota baru buah regenerasi, jika ingin berhasil baik, adalah keberagaman dan kedamaian.