Karena itu, Simentov jadi satu-satunya Yahudi
di sana.
Meski begitu, dia dengan bangga menyatakan
dirinya warga Afghanistan.
Baca Juga:
Taliban Tolak Serahkan Bagram, Trump Ancam Afghanistan dengan “Hal Buruk”
Mengenakan tunik tradisional dan terusan,
kippah hitam serta teffilin, Simentov mengingat momen sebelum Soviet menginvasi
sebagai tahun terbaik hidupnya.
Dia mengisahkan pada saat itu, semua pemeluk
agama hidup dalam damai dan seluruh sekte bebas menjalankan keyakinan mereka.
Simentov mengutarakan momen saat Taliban
berkuasa pada 1996 sampai 2001 adalah kejadian tersuram dalam hidupnya.
Baca Juga:
Trump Gegerkan Dunia dengan Ambisi Rebut Pangkalan Bagram Afghanistan
Saat itu, dia mengaku dipenjara sampai empat
kali di mana kelompok mereka mencoba untuk memaksanya berpindah agama.
Dalam salah satu insiden yang membuatnya amat
sangat marah, Taliban menyerbu dan menghancurkan sinagoge.
Kelompok pemberontak tersebut menyobek buku
dalam aksara Ibrani, menghancurkan Menorah dan menjarah Torah.