"Kami tidak memasuki Perang Dingin baru dan China bukan
musuh kami, bukan musuh kami," papar Stoltenberg kepada wartawan di markas
NATO menjelang KTT.
Dia menegaskan, "Tetapi kita perlu mengatasi bersama,
sebagai aliansi, tantangan yang ditimbulkan oleh kebangkitan China terhadap
keamanan kita."
Baca Juga:
AS Bakar Rp1.245 Triliun untuk Senjata Nuklir, Angkanya Kalahkan Gabungan 8 Negara
China adalah salah satu kekuatan militer dan ekonomi
terkemuka di dunia, yang Partai Komunisnya yang berkuasa memiliki cengkeraman
yang kuat dalam politik, kehidupan sehari-hari dan sebagian besar masyarakat.
NATO menjadi semakin khawatir tentang kemampuan militer
China yang berkembang pesat, yang dilihatnya sebagai ancaman terhadap keamanan
dan nilai-nilai demokrasi anggotanya.
Baca Juga:
Eropa Mulai Tak Percaya AS, Publik Eropa Dorong Pertahanan Mandiri
Dalam beberapa tahun terakhir, aliansi tersebut juga semakin
waspada terhadap aktivitas China di Afrika, di mana Beijing telah mendirikan
pangkalan militer.
Pada Senin, Stoltenberg mengatakan China
"mendekati" NATO dalam hal kemampuan ekonomi, militer dan
teknologinya.
Penilaian itu digaungkan Perdana Menteri Inggris Boris
Johnson, yang mengatakan ada kebutuhan untuk mengelola tantangan yang
ditimbulkan China.