WAHANANEWS.CO, Jakarta - Perjanjian pengurangan senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia yang dikenal dengan nama New START resmi berakhir pada Rabu malam (04/02) waktu Amerika Serikat bagian Timur, atau Kamis (05/02) pukul 12.00 WIB.
Berakhirnya perjanjian ini memicu kekhawatiran global, hingga sejumlah pemimpin dunia, termasuk Paus Leo XIV, menyerukan agar kesepakatan tersebut diperpanjang.
Baca Juga:
Mengenal Tahapan Ledakan Bom Nuklir dan Dampak Mematikannya
New START merupakan singkatan dari Strategic Arms Reduction Treaty, sebuah perjanjian bilateral terakhir antara AS dan Rusia terkait pengendalian senjata nuklir strategis.
Kesepakatan ini ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu, Barack Obama, dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.
Selama lebih dari satu dekade, New START menjadi satu-satunya kerangka hukum yang mengatur pembatasan senjata nuklir strategis kedua negara, yang juga merupakan dua kekuatan nuklir terbesar di dunia.
Baca Juga:
Pesawat C-17 Bawa Bom Nuklir ke Lakenheath, NATO Perkuat Postur Hadapi Rusia
Akar perjanjian ini dapat ditelusuri sejak era Perang Dingin melalui kesepakatan Strategic Arms Limitation Talks (SALT I) yang ditandatangani pada 1972.
Ketentuan utama New START
Dalam implementasinya, New START menetapkan sejumlah batasan penting, antara lain: