Selama ini, New START berfungsi menciptakan predictability atau kepastian melalui inspeksi lapangan dan pertukaran informasi rutin.
Tujuannya untuk menghindari salah tafsir data yang bisa mendorong keputusan serangan nuklir secara prematur.
Baca Juga:
Mengenal Tahapan Ledakan Bom Nuklir dan Dampak Mematikannya
Arah kebijakan AS dan Rusia
Pada September 2025, Presiden Vladimir Putin sempat menawarkan agar Rusia tetap mematuhi New START secara sepihak selama satu tahun tambahan untuk memberi ruang perundingan baru.
Presiden AS Donald Trump kala itu menyebut usulan tersebut "terdengar seperti ide yang bagus," namun tidak memberikan komitmen tegas.
Baca Juga:
Pesawat C-17 Bawa Bom Nuklir ke Lakenheath, NATO Perkuat Postur Hadapi Rusia
Hubungan kedua pemimpin sempat dinilai relatif baik, meski memunculkan kekhawatiran di Eropa bahwa kedekatan tersebut dapat mengorbankan kepentingan Ukraina dan Uni Eropa. Namun, sikap Trump kemudian berubah.
Dalam wawancara dengan The New York Times pada Januari 2026, ia mengatakan, "kalau memang berakhir, ya berakhir saja," sembari menambahkan harapannya bahwa "kami akan membuat perjanjian yang lebih baik."
Trump juga kembali menekankan pandangannya bahwa China perlu dilibatkan dalam kesepakatan pengendalian senjata nuklir.