Kini, China muncul sebagai kekuatan ekonomi dan militer besar, sehingga memicu dorongan AS agar Beijing dilibatkan dalam perjanjian baru.
China diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir dan jumlah tersebut terus meningkat. Pada 2023, sebuah komisi Kongres AS memperingatkan bahwa untuk pertama kalinya AS menghadapi tantangan strategis dari dua kekuatan nuklir sekaligus.
Baca Juga:
Mengenal Tahapan Ledakan Bom Nuklir dan Dampak Mematikannya
Namun, China menolak pembatasan persenjataan dengan alasan stok nuklirnya masih jauh di bawah AS dan Rusia.
Masa depan pengendalian senjata nuklir
Prospek perpanjangan atau pembentukan perjanjian baru dinilai semakin kecil. Rusia telah mengembangkan sistem senjata nuklir baru yang tidak tercakup dalam New START, seperti rudal balistik hipersonik Oreshnik dan drone bertenaga nuklir Poseidon.
Baca Juga:
Pesawat C-17 Bawa Bom Nuklir ke Lakenheath, NATO Perkuat Postur Hadapi Rusia
Di sisi lain, gagasan Trump mengenai sistem pertahanan rudal berbasis antariksa bernama Golden Dome dipandang banyak pihak berpotensi merusak prinsip pencegahan nuklir yang bertumpu pada konsep kehancuran bersama.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov pada Selasa (03/02) menegaskan bahwa jika AS menempatkan sistem pertahanan rudal di Greenland, Rusia akan merespons dengan langkah militer.
Kekhawatiran Eropa