"Tindakannya, tanpa diragukan lagi, menunda, mengalihkan perhatian, dan akhirnya mencegah kedua individu ini untuk mengakses area yang lebih luas di masjid, di mana sebanyak 140 anak berada dalam jarak 15 kaki (4,5 meter) dari para tersangka," kata Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl.
Seorang imam menunjukkan bagaimana terima kasihnya ia kepada para korban. Baginya mereka adalah sosok "hero" yang menyelamatkan nyawa, bahkan anak-anak kecil di sana yang sedang bersekolah.
Baca Juga:
Provokasi Anti-Muslim di Prancis: Kepala Babi Disebar di Masjid dan Jalanan
"Jika dia tidak melakukan apa yang dia lakukan, dan mengorbankan nyawanya, kedua tersangka akan dengan mudah mengakses setiap ruang kelas," kata imam masjid Taha Hassane.
"Kami sangat bangga padanya... Saya melihat pesan-pesan tentang dia, secara harfiah dari seluruh dunia, yang berbicara tentang kepahlawanannya," tambahnya.
Anak-Anak Menangis Bersembunyi di Lemari
Baca Juga:
Islamofobia di Prancis Terulang, Alquran Dirobek dan Jilbab Dibuang ke Tempat Sampah
Sementara itu, saat kejadian, dilaporkan bagaimana anak-anak yang takut dan menangis bersembunyi dalam lemari kelas. Seorang anak berusia 9 tahun bernama Odai Shanah menceritakan pengalamannya saat bersembunyi kelas bersama teman-temannya ketika terjadi penembakan mematikan terjadi.
Odai mengatakan ia mendengar rentetan tembakan dari luar kompleks masjid yang juga memiliki sekolah Islam. Guru-guru dengan cepat membawa anak-anak masuk ke lemari untuk berlindung.
Mereka berdesakan di dalam ketakutan ketika suara tembakan terus terdengar. Setelah situasi mereda, tim SWAT datang dan mengevakuasi anak-anak keluar ruangan.