"Dulu kami merasa aman di sini," kata Imani Khatib.
"Saya tidak mengerti mengapa kami menjadi sasaran," tambahnya.
Baca Juga:
Provokasi Anti-Muslim di Prancis: Kepala Babi Disebar di Masjid dan Jalanan
Supermasi Kulit Putih
Seperti banyak tempat ibadah di seluruh AS kompleks masjid tersebut telah menjadi sasaran tindakan Islamofobia sporadis. Insiden semacam itu meningkat setelah serangan 11 September 2001 di World Trade Center di New York.
Konflik di Gaza dan Iran telah memicu gelombang permusuhan baru. Hassane menyalahkan serangan mematikan itu pada "meningkatnya supremasi kulit putih" serta pada "para pejabat terpilih kami (dan) beberapa media yang hanya merendahkan martabat Muslim dan merendahkan martabat setiap minoritas, orang kulit hitam, orang Latin".
Baca Juga:
Islamofobia di Prancis Terulang, Alquran Dirobek dan Jilbab Dibuang ke Tempat Sampah
"Kami menerima beberapa surat, email, dan pesan telepon, Anda tahu, yang menyalahkan kami atas semua hal yang salah di dunia," katanya kepada AFP.
"Tetapi memiliki penembak, maksud saya, itu tidak pernah terlintas dalam pikiran kami," tambahnya.
"Ketika kaum muda yang telah dicuci otaknya, mereka mendengar retorika ini dari media, dari para pejabat terpilih," jelasnya.