Kemlu Prancis menekankan "keharusan semua pihak untuk menahan diri secara maksimal demi mencegah pecahnya konflik kawasan."
"Kami menginstruksikan delegasi Lebanon ke PBB untuk komplain ke Dewan Keamanan terkait serangan Israel yang menyasar militer Lebanon dan menyebabkan gugurnya satu tentara dan melukai dua lainnya," terang Pelaksana tugas Menteri Luar Negeri Lebanon, Abdallah Bou Said.
Baca Juga:
Lebanon di Ambang Perang, Israel Lancarkan Serangan Udara Terbesar Sejak 2024
"Israel secara aktif melanggar kedaulatan Lebanon dan menyerangnya di darat, laut, dan udara yang menahan diri untuk tidak menerapkan resolusi internasional, terutama Resolusi 425," demikian pernyataan lanjutan Bou Said.
Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon ikut angkat suara terkait serangan yang dilakukan oleh Israel, yang menyebabkan satu tentara Beirut tewas.
UNIFIL menyoroti bahwa peningkatan tajam dalam kekerasan di perbatasan Lebanon-Israel dapat memiliki konsekuensi serius bagi kedua belah pihak di sepanjang Garis Biru Perbatasan.
Baca Juga:
Sejak Awal Agresi Israel ke Jalur Gaza, Hamas Sebut 33 Sandera Tewas
UNIFIL juga mencatat bahwa ini merupakan kali pertama seorang tentara Lebanon tewas selama periode krisis ini, sambil menegaskan bahwa tentara Lebanon tersebut tidak terlibat dalam konflik dengan Israel.
Sebelumnya, Israel telah meminta maaf atas serangan udara yang menewaskan tentara Lebanon, dengan menyampaikan permintaan maaf tersebut dalam rilis resmi Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defence Forces/IDF).
Permintaan maaf ini dianggap sebagai tindakan langka, dan IDF juga menyatakan bahwa pasukan militer Lebanon bukanlah target dari serangan tersebut.