Pemerintah Amerika Serikat mengklaim telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap ribuan target militer Iran sejak konflik meningkat.
Menurut data yang disampaikan militer Amerika Serikat, sedikitnya 5.000 target telah diserang selama 10 hari terakhir.
Baca Juga:
Pengungkapan Kasus Narkoba di Jambi Naik 25 Persen, Polda Jambi Amankan Puluhan Tersangka
Target serangan tersebut meliputi lebih dari 50 kapal Iran, sistem pertahanan udara, fasilitas peluncuran rudal balistik, pabrik produksi rudal dan drone, hingga jaringan komunikasi militer.
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap menantang terhadap ancaman yang disampaikan oleh Presiden Trump.
Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa bukan Amerika Serikat yang menentukan kapan perang akan berakhir, melainkan Iran sendiri.
Baca Juga:
Kunker Safari Ramadhan ke Kodim 0419/Tanjab, Pangdam XX/TIB Tekankan Profesionalisme dan Kemanunggalan TNI-Rakyat
Penasihat kebijakan luar negeri untuk kantor pemimpin tertinggi Iran, Kamal Kharazi, juga menegaskan bahwa negaranya telah mempersiapkan diri untuk konflik jangka panjang.
“Perang ini sudah berdampak pada tekanan ekonomi negara lain, seperti inflasi dan kekurangan energi. Jika tekanan meningkat, negara lain mau tak mau harus ikut campur tangan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran untuk saat ini menolak berbagai upaya diplomasi yang ditawarkan untuk menghentikan konflik.