Angka tersebut bahkan dua kali lebih besar dibandingkan gangguan pasokan energi global saat Krisis Suez pada tahun 1956 hingga 1957.
Perang ini juga menyebabkan hilangnya kapasitas cadangan produksi minyak yang selama ini menjadi penyangga pasar energi global ketika terjadi krisis pasokan.
Baca Juga:
Pengungkapan Kasus Narkoba di Jambi Naik 25 Persen, Polda Jambi Amankan Puluhan Tersangka
Di sisi militer, Iran disebut menerapkan strategi perang ketahanan dengan mencoba bertahan lebih lama dibandingkan Amerika Serikat dan sekutunya.
Strategi tersebut dilakukan dengan meluncurkan drone dan rudal secara terus menerus serta menargetkan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
Pengamat Timur Tengah dari London School of Economics, Fawaz Gerges, menilai Iran memandang konflik ini sebagai perang mempertahankan eksistensi negara.
Baca Juga:
Kunker Safari Ramadhan ke Kodim 0419/Tanjab, Pangdam XX/TIB Tekankan Profesionalisme dan Kemanunggalan TNI-Rakyat
“Bagi Iran, mereka sedang berperang untuk mempertahankan eksistensi. Merasa kelangsungan hidup mereka sendiri dipertaruhkan. Ini perang habis-habisan dan mereka bersedia menghancurkan segalanya,” kata Gerges.
Peneliti Middle East Institute, Alex Vatanka, menggambarkan situasi Iran saat ini seperti pihak yang terluka namun menjadi lebih berbahaya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Iran semakin agresif dalam menyerang kepentingan Amerika Serikat di kawasan Teluk.