Ia mengakui sebelumnya sempat mendapat kritik karena dianggap terlalu dekat dengan Iran dibanding menjaga relasi dengan Amerika Serikat sebagai mitra dagang utama.
Menurut sejumlah pihak, posisi Malaysia sebagai negara kecil dinilai berisiko jika terlalu dekat dengan Iran di tengah dinamika geopolitik global.
Baca Juga:
Intelijen AS Heran, Kekuatan Rudal Iran Tetap Utuh Meski Diserang Berminggu-minggu
Namun Anwar menegaskan bahwa pendekatan diplomasi yang menjaga hubungan dengan berbagai pihak justru memberikan keuntungan strategis bagi negaranya.
Ia menjelaskan sempat berdiskusi langsung dengan Presiden Iran terkait konflik dan berbagai isu global, termasuk kondisi kapal tanker Malaysia yang tertahan di Selat Hormuz.
“Saya telepon sekali saja, saya bilang kapal kami masih ada tujuh tertahan, dia bilang, ‘ya, oke’. Saya minta tolong bantu, dan saat itu juga dia bilang akan memerintahkan agar kapal Malaysia segera dilepaskan,” kata Anwar.
Baca Juga:
Iran Catat Rekor Dunia, Internet Mati 37 Hari Nonstop
Presiden Iran disebut memberikan jaminan langsung bahwa kapal milik Petronas dan kapal Malaysia lainnya dapat melintas dengan aman demi memastikan pasokan energi tetap terjaga.
Meski keberhasilan diplomasi tersebut tercapai, Anwar menyebut kritik dari oposisi dalam negeri masih terus muncul terutama terkait tingginya harga bahan bakar minyak.
Ia menjelaskan bahwa biaya pengiriman dan asuransi kapal mengalami peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya akibat situasi konflik.