Bonar sendiri memiliki latar belakang beragam sebagai tentara, sopir bus, hingga pegawai Caltex, dan prestasinya di perusahaan tersebut mengantarkannya kuliah di Cornell University pada 1957 sebelum melanjutkan ke Columbia University.
“Bapak orang Indonesia pertama yang pernah kuliah di Universitas Cornell,” kata Luhut, mengenang ayahnya yang meninggal dunia pada 1982 saat ia masih berpangkat mayor.
Baca Juga:
Dituding Punya Saham TPL, Luhut Buka-bukaan
Diduga karena kekecewaan atas pilihan Luhut masuk Akmil, Bonar tidak mendampingi saat kelulusan Adhi Makayasa, sehingga hanya sang ibu yang hadir menyaksikan momen tersebut.
Mengenai karier militernya yang dinilai tidak sepadan dengan prestasi, Luhut kerap menyebutnya sebagai misteri kehidupan.
“That’s mystery of life, kita tidak pernah tahu apa yang digariskan oleh alam untuk kita,” ujarnya.
Baca Juga:
Wujud Sinergi Jaga kamtibmas, Ditbinmas Polda Jambi Gelar Tasyakuran HUT Satpam Ke-45
Justru setelah pensiun dari militer, Luhut menemukan jalur karier baru ketika atas usul Sintong Panjaitan ia dilantik Presiden BJ Habibie menjadi Duta Besar RI untuk Singapura pada 1999–2000.
Dari Singapura, Luhut kemudian ditarik Presiden Gus Dur untuk menjabat Menteri Perindustrian, sebelum kariernya semakin menanjak di era Presiden Joko Widodo.
Di masa pemerintahan Jokowi, Luhut dipercaya mengemban sejumlah jabatan strategis mulai dari Kepala Staf Kepresidenan, Menko Polhukam, hingga Menko Maritim dan Investasi.