Menurut Ramson, upaya meningkatkan lifting minyak tidak bisa hanya bergantung pada strategi mempertahankan produksi dari lapangan tua melalui berbagai metode optimalisasi maupun penerapan enhanced oil recovery (EOR).
Langkah tersebut dinilai penting, tetapi belum cukup untuk menghasilkan lonjakan produksi yang signifikan dalam jangka panjang.
Baca Juga:
Pemerintah Kembali Aktifkan Sumur Migas Tua, Bahlil Targetkan Produksi Rakyat Tembus Jutaan Barel
Ia menegaskan bahwa percepatan kegiatan eksplorasi di wilayah kerja baru harus menjadi fokus utama perusahaan agar dapat menemukan cadangan migas baru yang mampu menggantikan penurunan produksi alami atau natural decline dari lapangan-lapangan yang sudah beroperasi.
“Yang saya lihat, titik terlemah Pertamina saat ini adalah percepatan eksplorasi. Kalau natural decline terjadi, itu harus diimbangi dengan langkah eksplorasi yang lebih cepat,” ujarnya.
Selain menyoroti aspek teknis produksi, Ramson juga mengkritisi proses pengambilan keputusan di lingkungan internal Pertamina yang menurutnya masih berjalan lambat.
Baca Juga:
Presdir Shell Indonesia: Zat Aditif Hanya Berikan Nilai Tambah, Tak Mengubah RON BBM
Ia meminta manajemen PHE melakukan transformasi tata kelola dengan memanfaatkan teknologi informasi secara lebih optimal, sehingga seluruh tahapan pekerjaan mulai dari eksplorasi, pengembangan lapangan, hingga produksi dapat dipantau secara real time oleh jajaran pimpinan perusahaan.
Menurutnya, sistem pengawasan berbasis digital akan membantu mempercepat respons terhadap berbagai kendala operasional serta memastikan setiap target produksi dapat dievaluasi secara cepat dan terukur.
“Jangan business as usual. Harus progresif. Kalau ada pimpinan regional yang lamban, evaluasi dan ganti. Ini soal tanggung jawab besar untuk menjaga ketahanan energi nasional,” katanya.