Ia menilai kondisi tersebut perlu segera diperbaiki agar setiap keputusan yang telah disepakati dapat memberikan dampak konkret terhadap peningkatan kinerja sektor migas nasional.
Menurutnya, seluruh pihak terkait harus memastikan setiap program dan kebijakan yang telah dirumuskan benar-benar dijalankan sesuai target dan jadwal yang telah ditetapkan.
Baca Juga:
Ateng Sutisna Ingatkan Risiko Monopoli dalam Rencana PT DSI sebagai Eksportir Tunggal Komoditas Strategis
Dalam kesempatan tersebut, Ratna menyoroti data yang dipaparkan SKK Migas terkait capaian sejumlah program strategis hingga pertengahan tahun 2026.
Berdasarkan data tersebut, realisasi pengeboran sumur eksplorasi baru masih sangat rendah, yakni hanya mencapai 5 sumur dari target 39 sumur atau sekitar 13 persen.
Sementara itu, realisasi pengeboran sumur eksploitasi baru tercatat sebanyak 215 sumur dari target 832 sumur atau sekitar 25 persen.
Baca Juga:
bp Tandatangani Tiga Kontrak Bagi Hasil Baru, Total Blok Migas di Indonesia Jadi 11
Adapun kegiatan kerja ulang sumur (workover) baru mencapai 378 sumur dari target 942 sumur atau sekitar 40 persen.
Ratna menilai capaian tersebut perlu menjadi perhatian serius karena sebagian besar program tersebut merupakan bagian penting dari strategi peningkatan produksi nasional.
Ia mengingatkan bahwa program Triple 100 yang digagas SKK Migas selama ini menjadi salah satu andalan untuk mendorong pencapaian target lifting minyak nasional sebesar 610 ribu barel minyak per hari (BOPD).