Dalam paparannya, Willy menjelaskan bahwa forum tersebut tidak hanya membahas kebijakan maupun dinamika politik.
Menurutnya, esensi literasi jauh lebih mendasar karena berkaitan dengan bagaimana sebuah bangsa mampu memahami, mengenali, dan membaca dirinya sendiri melalui pengetahuan.
Baca Juga:
Willy Aditya Tegaskan Fokus Revisi UU HAM untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Warga Negara
Di tengah berbagai pembahasan yang berkembang, perhatian Willy justru tertuju kepada kelompok pekerja yang selama ini jarang menjadi perhatian dalam program-program literasi.
Ia menyoroti keseharian para office boy, cleaning service, Pamdal, sopir anggota DPR, hingga karyawan Sekretariat Jenderal DPR yang setiap hari beraktivitas di koridor maupun area parkir gedung parlemen.
Ia menilai kelompok tersebut memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses terhadap buku dan ruang membaca.
Baca Juga:
Gerakan Literasi dari Kota ke Dusun, Pegiat Literasi Papua Pegunungan Apresiasi Relawan Literasi di Tolikara
“Saya membayangkan ruang-ruang yang selama ini hanya menjadi tempat transit, bisa menjelma menjadi jendela pengetahuan yang accessible, yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang seragam yang mereka kenakan,” tuturnya.
Karena itu, Willy mengusulkan agar sejumlah lokasi yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai tempat menunggu atau beristirahat dapat diubah menjadi pojok baca.
Menurutnya, keberadaan fasilitas sederhana tersebut dapat menjadi langkah nyata dalam memperluas akses literasi bagi seluruh lapisan masyarakat.