Yang lebih berbahaya adalah kerusakan kepercayaan.
Hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan dibangun dalam situasi yang sangat tidak seimbang. Pasien datang ketika tubuhnya sakit, keluarganya cemas, pengetahuannya mengenai penyakit terbatas, dan sering kali pilihan yang tersedia tidak banyak.
Baca Juga:
Yurizal Meninggal Usai Keluhkan Rawat Inap, Menkes Budi Gunadi Mengaku Sedih dan Merasa Gagal
Dalam posisi seperti itu, pasien menyerahkan sesuatu yang sangat berharga kepada dokter dan tenaga kesehatan: kepercayaan.
Karena itulah komentar yang merendahkan pasien BPJS mempunyai dampak sosial lebih besar dibandingkan pertengkaran biasa antara dua pengguna media sosial.
Publik dapat mulai bertanya: apakah tenaga kesehatan diam-diam memandang rendah pasien BPJS? Apakah keluhan pasien dianggap gangguan? Apakah seseorang akan diperlakukan berbeda karena cara ia membayar pelayanan kesehatan?
Baca Juga:
Buntut Cacian ke Pasien yang Meninggal, 10 Nakes Teridentifikasi KKI hingga Dokter Dinonaktifkan
Padahal perilaku beberapa individu tentu tidak dapat digeneralisasi sebagai perilaku seluruh dokter dan tenaga kesehatan Indonesia.
Justru di situlah kerugiannya. Ribuan dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan yang setiap hari bekerja dengan baik, menangani pasien dalam tekanan tinggi, berjaga hingga larut malam, dan tetap memperlakukan pasien dengan manusiawi dapat ikut menanggung kerusakan kepercayaan yang ditimbulkan segelintir orang.
Ada persoalan yang jauh lebih mendasar. Kemampuan medis dapat diuji lewat lembar ujian. Kompetensi dapat dibuktikan dengan selembar sertifikat. Prosedur klinis dapat dikunci dalam Standar Operasional Prosedur (SOP). Namun, pelayanan kesehatan tidak pernah—dan tidak akan pernah—bisa direduksi sekadar menjadi urusan teknis belaka.