Pelajaran terbesar dari kasus ini bukanlah mengancam para nakes agar takut menyentuh media sosial. Justru sebaliknya: dunia digital membutuhkan mereka untuk meluruskan hoaks, memberi edukasi, dan menyebarkan literasi kesehatan. Yang dibutuhkan hanyalah satu hal: kesadaran akan kemanusiaan.
Di balik setiap akun pasien yang mengeluh di media sosial, ada manusia yang sedang cemas, lelah menunggu, atau mungkin sekadar bingung memahami sistem. Keluhan mereka boleh dikoreksi. Argumen mereka boleh diperdebatkan.
Baca Juga:
Yurizal Meninggal Usai Keluhkan Rawat Inap, Menkes Budi Gunadi Mengaku Sedih dan Merasa Gagal
Namun, profesi kesehatan memegang satu kemewahan etis yang tidak boleh tanggal, bahkan di tengah perbedaan pendapat: kemampuan untuk melihat manusia sebelum melihat masalahnya.
Masyarakat mungkin bisa memaafkan seorang dokter yang sesekali salah mengetik. Namun, sulit membayangkan masa depan layanan kesehatan jika masyarakat tak lagi percaya bahwa di saat mereka berada di kondisi paling rapuh, orang yang menyambut mereka adalah seorang penyembuh yang masih memiliki hati.
Sebab pada akhirnya, medis bisa dipelajari lewat buku dan diajarkan di ruang kuliah. Namun empati? Empati bukanlah mata kuliah tambahan. Ia adalah alasan mengapa profesi ini ada. [*]
Baca Juga:
Buntut Cacian ke Pasien yang Meninggal, 10 Nakes Teridentifikasi KKI hingga Dokter Dinonaktifkan
*] Penulis adalah Wakil Pemimpin Redaksi WahanaNews.co
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.