Donald Trump menjadi pongah dan sombong setelah berhasil dengan mudah menangkap Presiden Venezuela dengan alasan gembong narkoba. Dilanjutkan dengan seenaknya membentuk Board of Peace (BoP) dengan mengajak beberapa negara Timur Tengah dan Indonesia, seolah- olah melaksanakan Piagam PBB, tetapi menempatkan Donald Trump sebagai penguasa tunggal dan pimpinan seumur hidup. Tujuan mulianya untuk perdamaian Palestina. Supaya Israel mampu diajak duduk bersama dengan perwakilan Palestina untuk mengakhiri konflik Palestina.
Presiden Prabowo dengan senang hati ikut dalam BoP dan ikut mengguyur Rp17 triliun. Posisi Indonesia ditunjuk sebagai Wakil Ketua oleh Trump. Terjadi silang sengketa di dalam negeri. Hampir tiap hari di TV kita dengar perdebatan antara yang pro dan kontra. Apalagi dikaitkan dengan Agreement Reciprocal Trade (ART) yang ternyata setelah dibedah para ekonom Indonesia perjanjian itu mencekik leher Indonesia. Tetapi ada juga yang menganggap perjanjian itu menguntungkan Indonesia.
Baca Juga:
Negara Superpower Tapi Hobi Ngutang, Defisit AS Hampir US$1 Triliun
Serangan 28 Februari 2026
Serangan Israel dibantu Amerika Serikat ke Teheran menggemparkan dunia. Markas militer dan Pemerintah Iran dibom yang tembus ke lapisan bumi cukup dalam. Pemimpin tertinggi Kepala Negara Iran Ayatullah Ali Khomeini tewas beserta keluarganya.
Dengan pongahnya Trump mengumumkan Ali Khomeini tewas. Sebagaimana Trump mengumumkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah tertangkap. Tetapi Trump dan Netanyahu lupa atau juga karena sudah ditutupi dengan kesombongan, bahwa Iran itu sudah mempertahankan dirinya sejak puluhan tahun diembargo Amerika Serikat. Ketahanan internal mereka luar biasa, dibalut militansi karena kredo jihadfisabilillah, yakni pengerahan segala daya kekuatan, baik berupa harta, jiwa, maupun lisan untuk memuliakan Allah, jadi bukan sekedar omon-omon. Serangan rudal balasan Iran dengan berbagai nama yang dikutip dalam Al-Quran diluncurkan ke Tel Aviv dan beberapa negara teluk yang ada instalasi militer Amerika Serikat di rudal. Beberapa negara minta ampun dan meminta Amerika Serikat tidak melintaskan wilayah mereka dengan rudal-rudal yang diarahkan ke Iran.
Baca Juga:
Washington Buru Pemimpin Baru Iran, Siapkan Hadiah Fantastis Rp169 Miliar
Berita terakhir Trump menunda penyerangan kembali ke Iran, katanya atas permintaan sekutunya. Tetapi yang pasti nyali Trump sudah ciut. Ancaman Selat Hormuz ditutup dan melarang kapal tanker minyak lewat selat, jika bandel akan di rudal, dunia teriak. Kebutuhan minyak 20% dunia terganggu. Harga minyak bergerak naik.
Kabarnya juga Amerika Serikat rencana mengirim Marinir 2.500 personel. Kalau tujuannya serangan darat Iran sudah menyambut hangat. Kalau sudah pertempuran darat, ukurannya bukan senjata saja, tetapi militansi, dan motivasi perjuangan. Tentera Amerika Serikat itu apa tidak takut mati? Kebanyakan mereka itu mungkin tidak mengerti kenapa mereka berperang yang jaraknya ribuan puluh kilometer dari kampung halaman mereka. Belum lagi penguasaan lapangan. Ingat perang Irak, Afghanistan, Vietnam, buang nyawa percuma.
Bagi tentara Iran motivasi jelas. Mempertahankan tumpah darah mereka. Menebus kematian pemimpin mereka, dan sudah dijamin masuk surga karena mati syahid. Bayangkan dunia akan porak poranda oleh dua psikopat yang bernama Trump dan Netanyahu.