DI tahun itu juga, 2004, Partai Golkar menghelat Munas di Bali.
Pada titik inilah ironisme itu lahir.
Baca Juga:
Satu Terduga Pelaku Penikaman Nus Kei Ternyata Atlet MMA
Perjuangan berlumpur Akbar Tandjung “menyelamatkan” Partai Golkar dari arus kuat pembubaran, akhirnya harus bertekuk lutut di bawah pragmatisme para peserta Munas.
Suara Akbar Tandjung kalah kencang dari Jusuf Kalla, yang saat itu menduduki kursi RI-2 alias Wakil Presiden.
Dan, di era kepemimpinan Jusuf Kalla itu pulalah Akbar Tandjung seolah “diceraikan” dari Partai Golkar.
Baca Juga:
Polisi Ungkap Motif Penikaman Nus Kei: Dendam Lama di Jakarta
Muncul kesan, pada masa itu Golkar tidak boleh meng-“Akbar Tandjung” dan Akbar Tandjung sendiri dilarang meng-“Golkar”.
Betapa tidak?
Di zaman Jusuf Kalla itu, Akbar Tandjung tidak menduduki jabatan apapun, dan tak mendapat peran apa-apa.