Artinya, Partai Golkar hanya punya waktu setahun untuk melakukan konsolidasi jelang Pemilu.
Di sinilai peran ke-“Akbar-Tandjung”-an Partai Golkar betul-betul menghadapi ujian.
Baca Juga:
Satu Terduga Pelaku Penikaman Nus Kei Ternyata Atlet MMA
Bukan saja harus berhadapan dengan gelombang hujatan dan banjir caci maki, Partai Golkar pun harus merangkak di tengah kader-kader yang tidak setia untuk tetap berjalan di dalam barisan.
Belum lagi kehadiran puluhan parpol peserta Pemilu lain, yang seolah bersepakat untuk segera membenamkan dominasi Golkar di era Orba.
Pada situasi semacam itulah Akbar Tandjung harus memimpin Partai Golkar menaiki panggung Pemilu 1999.
Baca Juga:
Polisi Ungkap Motif Penikaman Nus Kei: Dendam Lama di Jakarta
Hasilnya?
Partai Golkar menjadi peraih suara terbanyak kedua, setelah PDI Perjuangan.
Tetapi, bukannya mereda, memasuki periode 1999-2004 itu badai topan yang meniup pohon “beringin” justru kian ganas.