Hasilnya menunjukkan bahwa berpindah video atau mempercepat tayangan untuk menghindari kebosanan justru membuat peserta merasa semakin bosan, kurang puas, dan kurang terlibat dengan konten yang mereka tonton.
Bahkan ketika peserta bebas memilih video YouTube yang mereka sukai, kebiasaan berpindah tayangan tetap memperkuat rasa bosan.
Baca Juga:
Korban Gempa Venezuela Tembus 4.118 Jiwa, Kerugian Capai Rp668 Triliun
“Orang mempercepat atau melewati video untuk menghindari kebosanan, tetapi perilaku itu justru dapat membuat mereka semakin bosan,” ujar Tam mengenai hasil penelitian tersebut.
Fenomena ini diduga terjadi karena otak tidak memperoleh waktu yang cukup untuk benar-benar tenggelam dan terlibat dalam sebuah aktivitas.
Akibatnya, otak terus mencari rangsangan baru tanpa pernah merasa benar-benar puas.
Baca Juga:
KPK Sebut SK Bupati Sukoharjo Jadi Alat Pemerasan, Setoran Capai Rp2,93 Miliar
Inilah yang membuat seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar, tetapi setelahnya tetap merasa kosong, bosan, dan sulit memulai pekerjaan yang lebih berat.
Dampaknya Bisa Terlihat dari Kebiasaan Sehari-hari
Otak yang terbiasa menerima hiburan cepat dapat merasa lebih sulit menghadapi aktivitas yang hasilnya tidak langsung muncul.