Pasca kemerdekaan, John Lie bergabung dengan laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) Barian Lautan. Dalam barisan itu, dia mendapatkan pangkat kelasi III dan bertugas di Cilacap. Selama bertugas, John Lie memimpin misi menembus blokade Belanda dalam menyelundupkan logistik dan senjata.
Selain itu, John Lie juga berjasa dalam berbagai misi militer seperti penumpasan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Republik Maluku Selatan (RMS), hingga Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perdjuangan Semesta (PRRI/Permesta). John Lie pensiun dengan pangkat Laksamana Muda di tahun 1966. Penghargaan gelar pahlawan nasional diberikan kepada dirinya di tahun 2009.
Baca Juga:
Kapuspen Sebut TNI Siap Bantu Media Tempo Cari Pelaku Teror
3. Brigjen Hasan Basry
Brigjen Hasan Basry lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan pada 17 Juni 1923. Dikenal sebagai Bapak Gerilya Kalimantan, Hasan Basry banyak berjuang untuk Indonesia, terutama di daerah Kalimantan Selatan. Dalam perjuangannya, Hasan Basry mendirikan Benteng Indonesia yang kemudian berkembang ke berbagai daerah.
Baca Juga:
Wali Kota Padang Sambut Kedatangan Pangkogabwilhan I Letjen Kunto Arief Wibowo
Pada 15 November 1946, Hasan Basry ditugaskan Letnan Asli Zuchri dan Letnan Muda M Mursid, anggota ALRI Divisi IV yang berada di Mojokerto, untuk membangun satu batalion ALRI di Kalimantan Selatan. Hasan Basry berhasil membentuk batalion ALRI dengan mengerahkan anggota Benteng Indonesia dan kekuatan bersenjata lainnya.
Dalam menyikapi keputusan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville, Hasan Basry dengan tegas menolak keputusan tersebut dan tetap melanjutkan perlawanannya kepada Belanda.
Perlawanannya bersama laskar-laskar angkatan laut membuat Belanda sulit menginjakkan kaki di tanah Kalimantan. Pada tahun 1959, Hasan Basry ditunjuk sebagai Panglima Daerah Militer X Lambung Mangkurat. Dalam masa panasnya politik PKI, sang Jenderal mengeluarkan surat pembekuan kegiatan PKI dan ormasnya yang membuat dia ditegur Presiden Soekarno. Namun, teguran tersebut tidak diindahkan.