“Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali. Namun, bukan BUMN lama, melainkan perusahaan baru dengan pendanaan US$6 miliar yang disiapkan oleh Danantara,” ujar Airlangga usai menghadiri IBC Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Airlangga menjelaskan, kebijakan ini lahir dari evaluasi peta jalan industri tekstil nasional yang menunjukkan lemahnya rantai pasok di sektor menengah (mid-stream), mulai dari produksi benang, kain, pencelupan (dyeing), pencetakan (printing), hingga proses penyelesaian akhir (finishing).
Baca Juga:
KSPSI Dukung Imbauan Menaker Terapkan WFA 29–31 Desember
“Ini yang harus kita dorong untuk dibangkitkan kembali. Kelemahan kita memang berada di value chain yang tengah,” katanya.
Melalui intervensi negara lewat BUMN baru ini, pemerintah menargetkan peningkatan ekspor tekstil secara signifikan, dari sekitar US$4 miliar saat ini menjadi US$40 miliar dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.
Selain itu, langkah ini juga menjadi strategi defensif menghadapi potensi kenaikan tarif dagang global, terutama dari negara-negara mitra seperti Amerika Serikat.
Baca Juga:
KSPSI dan Komdigi RI Gelar Workshop Literasi Digital, Arnod Sihite: Pekerja Harus Cakap dan Aman di Ruang Digital
Pemerintah juga tengah menyiapkan diversifikasi pasar ekspor, termasuk memanfaatkan peluang dari perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang ditargetkan mulai efektif pada 2027.
Sambil menunggu implementasi perjanjian tersebut, penguatan industri dalam negeri melalui BUMN tekstil dan pendanaan Danantara dinilai menjadi langkah taktis yang mendesak.
KSPSI berharap rencana ini dapat segera direalisasikan dengan tetap melibatkan unsur pekerja dalam perumusan kebijakan, sehingga manfaat ekonomi dan sosialnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.